Senin, 31 Mei 2010

Adab Membaca al-Quran

Adab Membaca al-Quran

Tadi pagi saya sempat bertanya pada istri, "adab membaca al-Quran bagaimana?"


Istri saya menjelaskan bahwa sebelum kita membaca Al-Qur'an maka sebaiknya diketahui adab membaca Al-Qur'an, karena Al-Qur'an adalah kitab suci yang harus dihormati dan diagungkan. Adab secara batin, terlebih dahulu pembaca Al-Qur'an ketika memulainya ia harus menghadirkan dalam hatinya, betapa kebesaran Allah yang mempunyai kalimat-kalimat itu.

Kita harus yakin bahwa yang kita baca itu bukanlah kalam manusia, tetapi adalah kalam Allah azza wa jalla. Membesarkan kalam Allah itu bukan saja membacanya, tetapi juga mendengarkannya sesuai dengan firman Allah swt dalam Surat al-A’raf ayat 205: “Dan apabila dibacakan Al- Qur'an maka dengarkanlah (baik-baik) dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.”


Dan saya pernah membaca buku tentang adab membaca Al-Qur'an menurut dalam kitabnya At-tibyan Fi Hamalatil Quran tulisan Syeikh Nawawi, sebagai berikut:

1. Hendaklah membersihkan mulutnya dengan menggosok
gigi atau dengan siwak.

2. Hendaknya dalam keadaan suci atau membaca Al- Qur'an setelah berwudhu (Q.S. al-Waqi’ah [56] ; 79).

3. Membaca Al-Qur'an di tempat yang bersih dan suci

4. Dianjurkan membacanya sambil menghadap kiblat

5. Dimulai dengan membaca ta’awwudz yakni bacaan a’udzubillâhi minasy syaithanirrajîm.

6. Tidak lupa membaca bismillâhirrahmânirrahîm pada awal surat kecuali surat at-Taubah.

7. Apabila mulai membaca, hendaklah bersikap khusyuk dan merenung. (Q.S. Muhammad [47] ; 24).

8. Dianjurkan untuk mengulang-ulang bacaan ayat untuk direnungkan artinya.
9. Sebaiknya menangis ketika membaca Al-Qur'an (QS. Al-Maidah [05]: 83, QS. Al-Isra [17]: 107, QS. As-Sajadah [32]: 15)

10. Membaca Al-Qur'an dengan tartil, yaitu dengan bacaan yang pelan-pelan dan tenang.

11. Membaca Al-Qur'an dengan suara yang bagus lagi

12. Dianjurkan bila melewati ayat yang mengandung rahmat agar memohon karunia kepada Allah ta’ala.

Artikel terkait :

Kiat Memperlakukan Buah Hati

Kiat Memperlakukan Buah Hati

Pahami anak sebagai individu yang berbeda. Seorang anak dengan yang lainnya memiliki karakter yang berbeda. Memiliki bakat dan minat yang berbeda pula. Karenanya, dalam menyerap ilmu dan mengamalkannya berbeda satu dengan yang lainnya. Sering terjadi kasus, terutama pada pasangan muda, orangtua mengalami “sindroma” anak pertama. Karena didorong idealisme yang tinggi, mereka memperlakukan anak tanpa memerhatikan aspek-aspek perkembangan dan pertumbuhan anak. Misal, anak dipompa untuk bisa menulis dan membaca pada usia 2 tahun, tanpa memerhatikan tingkat kemampuan dan motorik halus (kemampuan mengoordinasikan gerakan tangan) anak.

فَاتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (At-Taghabun: 16)

Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Apabila aku melarangmu dari sesuatu maka jauhi dia. Bila aku perintahkan kamu suatu perkara maka tunaikanlah semampumu.” (HR. Al-Bukhari, no. 7288)

Kata مَا اسْتَطَعْتُمْ (semampumu) menunjukkan kemampuan dan kesanggupan seseorang berbeda-beda, bertingkat-tingkat, satu dengan lainnya tidak bisa disamakan. Ini semua karena pengaruh berbagai macam latar belakang.

- Memberi tugas hendaklah sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak.

لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286)

- Berusahalah untuk selalu menghargai niat, usaha dan kesungguhan anak. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kalian, tapi Allah melihat kepada hati (niat) dan amal-amal kalian.” (HR. Muslim no. 2564)

Jangan mencaci maki anak karena kegagalannya. Tapi berikan ungkapan-ungkapan yang bisa memotivasi anak untuk bangkit dari kegagalannya. Misal, “Abi tidak marah kok, Ahmad belum hafal surat Yasin. Abi tahu, Ahmad sudah berusaha menghafal. Lain kali, kita coba lagi ya.”

- Tidak membentak, memaki dan merendahkan anak. Apalagi di hadapan teman-temannya atau di hadapan umum. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

“Dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.” (An-Nisa`: 5)

- Tidak membuka aib (kekurangan, kejelekan) yang ada pada anak di hadapan orang lain. Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa menutup (aib) seorang muslim, Allah akan menutup (aib) dirinya pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari no. 2442)

- Jika anak melakukan kesalahan, jangan hanya menunjukkan kesalahannya semata. Tapi berilah solusi dengan memberitahu perbuatan yang benar yang seharusnya dia lakukan. Tentunya, dengan cara yang hikmah. ‘Umar bin Abi Salamah radhiyallahu ‘anhu berkata:

كُنْتُ غُلَامًا فِي حِجْرِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: يَا غُلَامُ، سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ

“Saat saya masih kecil dalam asuhan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya menggerak-gerakkan tangan di dalam nampan (yang ada makanannya). Lantas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihatiku, ‘Wahai ananda, sebutlah nama Allah (yaitu bacalah Bismillah saat hendak makan). Makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang ada di sisi dekatmu’.” (HR. Al-Bukhari no. 5376)

- Tidak memanggil atau menyeru anak dengan sebutan yang jelek. Seperti perkataan: “Dasar bodoh!” Ini berdasarkan hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ بِخَيْرٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ

“Janganlah kalian menyeru (berdoa) atas diri kalian kecuali dengan sesuatu yang baik. Karena, sesungguhnya malaikat akan mengaminkan atas apa yang kalian ucapkan.” (HR. Muslim no. 920)

- Perbanyak ucapan-ucapan yang mengandung muatan doa pada saat di hadapan anak. Seperti ucapan:

بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ

“Semoga Allah memberkahi kalian.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (Al-Baqarah: 83)

Juga selalu mendoakan kebaikan bagi sang anak, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang berkata: ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’.” (Al-Furqan: 74)

- Berusahalah untuk senantiasa berlaku hikmah dalam menghadapi masalah anak. Tidak mengedepankan emosi. Tidak mudah menjatuhkan sanksi. Telusuri setiap masalah yang ada pada anak dengan penuh hikmah, tabayyun (klarifikasi). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا

“Dan barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.” (Al-Baqarah: 269)

- Berusahalah bersikap adil terhadap anak-anak dan berbuat baik kepadanya.

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (An-Nahl: 90)

- Hindari sikap-sikap dan tindakan yang menjadikan anak mengalami trauma, blocking (mogok), malas atau enggan belajar. Sebaliknya, ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، بَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا

“Permudah dan jangan kalian persulit. Gembirakan, dan jangan kalian membuat (mereka) lari.” (HR. Al-Bukhari no. 69)

Wallahu a’lam.

Artikel terkait :


Cara Mudah Belajar Membaca Al-Qur’an

Cara Mudah Belajar Membaca Al-Qur’an

Cara mudah belajar membaca Al-Qur'an itu secara garis besar seseorang harus menguasai 5 hal berikut:

1. Menguasai huruf hijaiyyah yang berjumlah 28 huruf berikut makharijul hurufnya. Hal ini dikarenakan untuk bisa membaca Al-Qur'an, 90 % ditentukan oleh penguasaan huruf hijaiyyah dan selebihnya 10 % lagi sisanya seperti tanda baca, hukum dan lain–lain. Namun saat ini metode menghafal huruf hijaiyyah 28 huruf dapat dilakukan lebih cepat seperti menggunakan metode titian kata, tanda bentuk, dan sebagainya).

2. Menguasai tanda baca (a, I, u atau disebut fathah, kasrah, dan dhommah). Tanda baca di dalam huruf hijaiyyah ternyata sama dengan cara kita mengeja huruf latin dengan istilah vocal (huruf hidup). Hanya perbedaannya di dalam huruf Arab Cuma mengenal vocal A, O, I, dan U, sedangkan huruf latin terdapat vocal E. jika di huruf latin huruf B bertemu dengan U menjadi BU, maka sama juga dengan huruf Arab, Ba’ sama dengan huruf B jika bertemu tanda Baca U (dhommah) maka dibaca BU.

3. Menguasai isyarat baca seperti panjang, pendek, dobel (tasydid), dan seterusnya. Isyarat baca panjang dan pendek Al-Qur'an sama juga seperti kita mengenal ketukan di dalam tanda lagu. Karena Al-Qur'an juga mengandung unsur irama lagu yang indah.

4. Menguasai hukum-hukum tajwid seperti cara baca dengung, samar, jelas dan sebagainya. Begitu pula tidak ada kesulitan dalam belajar tajwid karena sudah ditemukan formulasinya seperti cukup menghafal tanda dan cara bacanya, bahkan kalau tidak ingin repot sudah disusun Al-Qur'an plus tajwid menggunakan tanda warna-warni bagi mereka yang belum bisa. Latihan yang istiqamah dengan seorang guru yang ahli. Di dalam membaca al-Qur’an, setiap Qori’ (pembaca Al-Qur'an) harus membacanya sesuai dengan hukum tajwid seperti makharijul huruf (tempat keluarnya huruf), tanda baca, panjang pendek, hukum nun mati dengung, samar, jelas dan sebagainya. Selain itu di dalam membaca Al-Qur'an terdapat dua irama yaitu murattal (membaca perlahan-lahan tanpa menggunakan irama lagu) dan tilawah atau nagham yaitu membaca menggunakan irama tertentu.

Selamat mencoba...

Kamis, 27 Mei 2010

MEMBENTUK KELUARGA ISLAMI

MEMBENTUK KELUARGA ISLAMI


Mayoritas manusia tentu mendambakan kebahagiaan, menanti ketentraman dan ketanangan jiwa. Tentu pula semua menghindari dari berbagai pemicu gundah gulana dan kegelisahan. Terlebih dalam lingkngan keluarga. Ingatlah semua ini tak akan terwujud kecuali dengan iman kepada Alloh, tawakal dan mengembalikan semua masalah kepadaNya, disamping melakukan berbagai usaha yang sesuai dengan syari’at.

Pentingnya Keharmonisan Keluarga Yang paling berpengaruh buat pribadi dan masyarakat adalah pembentukan keluarga dan komitmennya pada kebenaran. Alloh dengan hikmahNya telah mempersiapkan tempat yang mulia buat manusia untuk menetap dan tinggal dengan tentram di dalamnya. FirmanNya: “dan diantara tanda-tanda kekuasanNya adalah Dia mencipatakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan diajadikanNya diantara kamu rasa kasih sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Ar Rum: 21)

Ya.supaya engkau cenderung dan merasa tentram kepadanya (Alloh tidak mengatakan: ‘supaya kamu tinggal bersamanya’). Ini menegaskan makna tenang dalam perangai dan jiwa serta menekankan wujudnya kedamaian dalam berbagai bentuknya.

Maka suami istri akan mendapatkan ketenangan pada pasangannya di kala datang kegelisahan dan mendapati kelapangan di saat dihampiri kesempitan. Sesungguhnya pilar hubungan suami istri adalah kekerabatan dan pershabatan yang terpancang di atas cinta dan kasih sayang. Hubungan yang mendalam dan lekat ini mirip dengan hubungan seseorang dengan dirinya sendiri. Al Qur’an menjelaskan: “Mereka itu pakaian bagimu dan kamu pun pakaian baginya.” (Al Baqarah: 187)

Terlebih lagi ketika mengingat apa yang dipersiapkan bagi hubungan ini misalnya; penddidikan anak dan jaminan kehidupan, yang tentu saja tak akan terbentuk kecuali dalam atmosfir keibuan yang lembut dan kebapakan yang semangat dan serius. Adakah di sana komunitas yang lebih bersih dari suasana hubungan yang mulia ini?

Pilar Peyangga Keluarga Islami

1. Iman dan Taqwa
Faktor pertama dan terpenting adalah iman kepada Alloh dan hari akhir, takut kepada Dzat Yang memperhatikan segala yang tersembunyi serta senantiasa bertaqwa dan bermuraqabbah (merasa diawasi oleh Alloh) lalu menjauh dari kedhaliman dan kekeliruan di dalam mencari kebenaran.

“Demikian diberi pengajaran dengan itu, orang yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat. Barang siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaya Dia kan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Dia kan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan keperluannya.” (Ath Thalaq: 2-3)

Di antara yang menguatkan tali iman yaitu bersungguh-sungguh dan serius dalam ibadah serta saling ingat-mengingatkan. Perhatikan sabda Rasululloh: “Semoga Alloh merahmati suami yang bangun malam hari lalu shalat dan membangunkan pula istrinya lalu shalat pula. Jika enggan maka dipercikkannya air ke wajahnya. Dan semoga Alloh merahmati istri yang bangun malam hari lalu shalat dan membangunkan pula suaminya lalu shalat pula. Jika enggan maka dipercikkannya air ke wajahnya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An Nasa’i, Ibnu Majah).

Hubungan suami istri bukanlah hubungan duniawi atau nafsu hewani namun berupa interaksi jiwa yang luhur. Jadi ketika hubungan itu shahih maka dapat berlanjut ke kehidupan akhirat kelak. FirmanNya: “Yaitu surga ‘Adn yang mereka itu masuk di dalamnya bersama-sama orang yang shaleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya.” (Ar Ra’du: 23)

2. Hubungan Yang Baik
Termasuk yang mengokohkan hal ini adalah pergaulan yang baik. Ini tidak akan tercipt akecuali jika keduanya saling mengetahui hak dan kewajibannya masing-masing.

Mencari kesempurnaan dalam keluarga dan naggotanya adalah hal mustahil dan merasa frustasi daklam usha melakukan penyempurnan setiap sifat mereka atau yang lainnya termasuk sia-sia juga.

3. Tugas Suami
Seorang suami dituntut untuk lebih bisa bersabar ketimbang istrinya, dimana istri itu lemah secara fisik atau pribadinya. Jika ia dituntut untuk melakukan segala sesuatu maka ia akan buntu.

Teralalu berlebih dalam meluruskannya berarti membengkokkannya dan membengkokkannya berarti menceraikannya. Rasululloh bersabda: “Nasehatilah wanita dengan baik. Sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk dan bagian yang bengkok dari rusuk adalah bagian atasnya. Seandainya kamu luruskan maka berarti akan mematahkannya. Dan seandainya kamu biarkan maka akan terus saja bengkok, untuk itu nasehatilah dengan baik.” (HR. Bukhari, Muslim)

Jadi kelemahan wanita sudah ada sejak diciptakan, jadi bersabarlah untuk menghadapinya. Seorang suami seyogyanya tidak terus-menerus mengingat apa yang menjadi bahan kesempitan keluarganya, alihkan pada beberapa sisi kekurangan mereka. Dan perhatikan sisi kebaikan niscaya akan banyak sekali.

Dalam hal ini maka berperilakulah lemah lembut. Sebab jika ia sudah melihat sebagian yang dibencinya maka tidak tahu lagi dimana sumber-sumber kebahagiaan itu berada. Alloh berfirman; “Dan bergaullah bersama mereka dengan patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Aloh menjadikannya kebaikan yang banyak.” (An Nisa’: 19)

Apabila tidak begitu lalu bagaimana mungkin akan tercipta ketentraman, kedamaian dan cinta kasih itu: jika pemimpin keluarga itu sendiri berperangai keras, jelek pergaulannya, sempit wawasannya, dungu, terburu-buru, tidak pemaaf, pemarah, jika masuk terlalu banyak mengungkit-ungkit kebaikan dan jika keluar selalu berburuk sangka.

Padahal sudah dimaklumi bahwa interaksi yang baik dan sumber kebahagiaan itu tidaklah tercipta kecuali dengan kelembutan dan menjauhakan diri dari prasangka yang tak beralasan. Dan kecemburuan terkadang berubah menjadi prasangka buruk yang menggiringnya untuk senantiasa menyalah tafsirkan omongan dan meragukan segala tingkah laku. Ini tentu akan membikin hidup terasa sempit dan gelisah dengan tanpa alasan yang jelas dan benar.

4. Tugas Istri
Kebahagiaan, cinta dan kasih sayang tidaklah sempurna kecuali ketika istri mengetahui kewajiban dan tiada melalaikannya. Berbakti kepada suami sebagai pemimpin, pelindung, penjaga dan pemberi nafkah. Taat kepadanya, menjaga dirinya sebagi istri dan harta suami. Demikian pula menguasai tugas istri dan mengerjakannya serta memperhatikan diri dan rumahnya.

Inilah istri shalihah sekaligus ibu yang penuh kasih sayang, pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Juga mengakui kecakapan suami dan tiada mengingkari kebaikannya. Untuk itu seyogyanya memaafkan kekeliruan dan mangabaikan kekhilafan. Jangan berperilaku jelek ketika suami hadir dan jangan mengkhianati ketika ia pergi.

Dengan ini sudah barang tentu akan tercapai saling meridhai, akan langgeng hubungan, mesra, cinta dan kasih sayang. Dalam hadits: “Perempuan mana yang meninggal dan suaminya ridha kepadanya maka ia masuk surga.” (HR. Tirmidzi, Hakim, Ibnu Majah)

Maka bertaqwalah wahai kaum muslimin! Ketahuilah bahwa dengan dicapainya keharmonisan akan tersebarlah semerbak kebahagiaan dan tercipta suasana yang kondusif bagi tarbiyah.

Selain itu tumbuh pula kehidupan di rumah yang mulia dengan dipenuhi cinta kasih dan saling pengertian anatar sifat keibuan yang penuh kasih sayang dan kebapakan yang tegas, jauh dari cekcok, perselisihan dan saling mendhalimi satu sama lain. Juga tak ada permusuhan dan saling menyakiti.

Penutup
Lurusnya keluarga menjadi media untuk menciptakan keamanan masyarakat. Bagaimana bisa aman bila ikatan keluarga telah amburadul. Padahal Alloh memberi kenikmatan ini yaitu kenikmatan kerukunan keluarga, kemesraan dan keharmonisannya.

Hubungan suami istri yang sangat solid dan fungsinya sebagai orang tua di tambah anak-anaknya yang tumbuh dalam asuhan mereka, merupakan gambaran umat terkini dan masadepan. Karena itu ketika setan berhasil menceraikan hubungan keluarga dia tidak sekadar menggoncangkan sebuah keluarga namun juga menjerumuskan masyarakat seluruhnya ke dalam kebobrokan yang merajalela. Realita sekarang menjadi bukti.

Semoga Alloh merahmati pria yang perilakunya terpuji, baik hatinya, pandai bergaul (terhadap keluarga), lemah lembut, pengasih, penyayang, tekun, tidak berlebihan dan tiada lalai dengan kewajibannya. Semoga Alloh merahmati pula wanita yang tidak mencari-cari kekeliruan, tidak cerewet, shalihah, taat dan memelihara dirinya ketika suaminya tidak ada karena Alloh telah memeliharanya.

Bertaqwalah wahai kaum muslimin, wahai suami istri. Barang siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaaya akan dimudahkan urusannya. (Syeikh Shalih bin Abdullah bin Al Humaid).

Artikel terkail :




Fitrah Pendidikan Anak

Anak-anak perlu dibelai dan diasuh mengikut fitrahnya bukan mengikut kehendak ibu bapa. Perkara yang selalu gagal difahami oleh ibu bapa tentang anak-anak ialah wujudnya ‘sensitive period’ sepanjang perkembangan mereka.

Contohnya, semasa anak-anak sudah pandai bertatih, ada satu tempoh kita dapati anak-anak ini suka sangat memanjat tangga (sensitive period for stairs climbing).

Selalunya, kita akan halang anak itu sebab takut terjatuh atau tercedera. Lalu kita pasang semacam pagar di tangga untuk halang anak dari memanjat tangga. Secara tidak sedar kita halang perkembangan fizikal mereka yang sepatutnya dipuaskan secara fitrah. Sedangkan aktiviti (memanjat tangga)tersebut melatih perkembangan psikomotor anak-anak. Juga menanam rasa yakin diri pada anak-anak.

Sepatutnya, biarkan sahaja anak-anak itu meniti tangga. Jangan dihalang, tetapi dipantau dari jauh. Ibu bapa boleh sahaja mengikut dari belakang dan apabila anak-anak berjaya tiba di tangga paling atas, berikan ganjaran atas ‘kejayaannya’ itu.

Persekitaran anak-anak juga sepatutnya lebih child-centered bukan adult centered. Maksudnya, persekitaran rumah perlu membantu ke arah mengasuh fitrah anak-anak ini. Jangan terlalu taksub dengan perhiasan rumah yang mahal dan pelbagai sehingga menghalang perkembangan fizikal dan mental anak-anak.

Pada usia 0-3 tahun, anak-anak perlu dibelai dan disantuni. Mereka terlalu kecil untuk memahami jerkahan atau herdikan daripada ibu bapa (terutamanya ketika menyepah rumah dengan kertas atau mainan). Didik dan sentuh jiwa mereka dengan lembut serta kasih sayang. Kekerasan tidak membawa natijah yang positif pada peringkat ini. Pada peringkat usia 4-6 tahun boleh diperkenalkan konsep disiplin secara lembut.

Contohnya, bungkusan makanan perlu dibuang dalam tong sampah, ampaikan tuala di tempatnya atau susun kasut sebelum masuk ke rumah. Anak-anak juga sudah boleh diajar konsep perkongsian pada peringkat ini. Contohnya, makan dengan kawan-kawan bekalan makanan yang dibawa ke sekolah atau pinjamkan pensel warna kepada kawan yang terlupa membawanya ke sekolah, atau masukkan sebahagian daripada duit belanja dalam tabung Palestin setiap hari.

Berikut disenaraikan tips untuk membantu perkembangan anak-anak secara fitrah:

1. Sensitive period: menyonteng
Selalunya: Kita marah apabila anak-anak menconteng dinding. Lalu kita sorokkan pen atau pensel supaya dia tidak dapat menconteng dinding.

Kesalahan kita: Menghalang perkembangan motor halus (penggunaan jari) dan daya tumpuan anak (fokus mata)

Sepatutnya: Salurkan minat menconteng pada tempat yang betul. Sediakan kertas dan melukislah bersama anak-anak ini. Beri ganjaran pada hasil ‘seninya’ dalam bentuk pujian, ciuman dan gosokan di kepala.(At the age of 18 months my little Itqan and Ijlal had already known the correct way of holding a pencil. Little Ijlal can spend hours doodling on her art book (used exercise book)instead of watching cartoons or playing with toys.)

2. Sensitive period: main pisau
Selalunya: Kita halang anak-anak masuk ke dapur setiap kali hendak masak. Apabila anak-anak menunjukkan minat untuk menggunakan pisau, kita marah kerana bimbang tercedera atau terluka.

Kesalahan kita: Mematikan minatnya terhadap kerja-kerja di dapur. Dia mungkin membesar dalam keadaan membenci atau tidak berminat dengan kerja-kerja di dapur.

Sepatutnya: Sediakan set memotong khas untuknya. Gantikan pisau yang tajam dengan pisau mentega misalnya dan sediakan satu ruang khas untuk dia ‘menjalankan’ kerja-kerja dapurnya. (my little Ijlal loves to ‘help’ everytime I cook. So, she has her own butter knife to cut pieces of potatoes or carrots)

3. Sensitive period: basuh pinggan
Selalunya: Kita larang anak-anak kecil untuk membasuh pinggan sendiri kerana tidak mahu mereka main air atau pinggan tak bersih atau takut pinggan pecah.

Kesalahan kita: Apabila anak-anak menunjukkan minat untuk mula membasuh pinggan, bermakna mereka telah faham sedikit sebanyak konsep kebersihan. Jika kita melarang, bermakna kita menghalang perkembangannya secara fitrah. Mereka mungkin cenderung menjadi ‘rebel’ jika keinginan ini tidak dipenuhi.

Sepatutnya: Tunjukkan cara yang betul untuk membasuh pinggan. Gunakan pinggan atau peralatan plastik jika takut pecah. Andainya tidak puas hati dengan kebersihan pinggan yang dibasuh, basuh semula ketika anak itu tidak nampak. Practice makes perfect. Selepas beberapa kali, pasti anak itu telah mahir. Selepas ini mereka pasti lebih bersemangat untuk membantu ibu di dapur kerana telah punyai satu kemahiran baru!

4. Sensitive period: makan sendiri
Selalunya: Kita tidak gemar membiarkan anak menyuap makanan sendiri kerana takut bersepah atau lambat makan.

Kesalahan kita: Secara tak langsung kita halang perkembangan koordinasi motor kasar dan halusnya (mencedok makanan dengan sudu, menyuap makanan ke mulut). Kita desak anak-anak supaya menghabiskan makanan dengan cepat sedangkan ketika makan itu derianya belajar mengenalpasti rasa dan tekstur makanan dan otaknya merekod maklumat yang dikenalpasti oleh deria itu.

Sepatutnya: Sediakan peralatan makan yang khas untuk anak-anak. Tunggu dengan sabar setiapkali anak-anak makan. Beri ganjaran setiapkali mereka berjaya menggunakan sudu atau garfu dengan betul (pujian, ciuman, tepuk tangan). Jangan dimarahi jika makanan tertumpah kerana mereka masih belum mampu mengawal pergerakan sebaik orang tua. (At the age of 3, little Itqan can eat on her own without my assistance. Little Ijlal still learning)
………more tips to come

Sensitive period bagi setiap anak adalah berbeza-beza. Jangan dilabel anak-anak itu sebagai lambat jika dia belum mencapai tahap sebagai mana anak-anak lain. Bukanlah bermakna anak itu lemah tetapi tempoh ‘sensitive periodnya’ masih belum tiba. Jadi, bersabarlah dengan karenah anak-anak kerana mereka bertindak berdasarkan fitrah bukan logik akal. Semoga berjaya menjadi ibu bapa yang dirahmati Allah atas kesabaran antum mendidik anak-anak amanah daripada-Nya.

Link terkait :

Matlamat Pendidikan

Matlamat Pendidikan

Antara matlamat umum yang ingin dicapai dalam pendidikan kanak-kanak ini antara lain ialah:

1. Untuk memberi kesedaran dan kefahaman kepada kanak-kanak tentang tugas mereka di dunia ini.

2. Menanamkan bibit-bibit kecintaan kepada ISlam dan merasa bahawa diri mereka itu adalah milik Islam.

3. Untuk menolong kanak-kanak membesar disamping mencapai peribadi yang seimbang.

4. Untuk melahirkan kanak-kanak yang menghayati perjuangan Islam sebagaimana yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW.

5. Untuk membimbing kanak-kanak dengan beberapa kemahiran yang membolehkan mereka memberi sumbangan kepada masyarakat sekeliling.

Senin, 24 Mei 2010

Cerita dan Lagu Anak Islam - Sholatlah Nak

Cintai Allah Cintai Islam 6

Photobucket

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons